Kebudayaan



Budaya Desa Kampao
1.      Seni Musik Hadrah
Pius A Partanto dalam kamus Ilmiah Populer (arkaloka, 1994) mengartikan seni sebagai segala yang berkaitan dengan karya cipta yang dihasilkan oleh unsur rasa. Cita rasa “seni” itulah yang terkadang menginspirasi masyarakat pencipta seni musik dalam berkreativitas dan berkarya, sehingga menghasilkan bermacam-macam aliran seni musik.
Mengenai seni musik hadrah. Salah satu seni musik yang digemari oleh masyarakat Madura hingga saat ini terutama masyarakat pedesaan dan beberapa daerah perkotaan di kepulauan Madura. Musik ini, kerapkali digunakan untuk mengiringi kegiatan-kegiatan besar semisal penyambutan jama’ah haji dari Mekkah ataupun perkawinan serta beberapa pengajian akbar di Madura. Begitupun juga tradisi hardrah ini masih begitu melekat dan terjaga kelestariannya sampai saat ini di desa Kampao, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan. Setiap satu minggu sekali di Desa kampao kerap kali di lakukan latihan rutin mengenai kesenian musik hadrah ini. Biasanya di lakukan pada malam hari di rumah warga.
Sejarah tentang beberapa musik yang pernah berkembang di Madura, ditulis oleh Helena Bouvier seorang peneliti dari Perancis yang bertahun-tahun tinggal di Madura ini. Wanita ini, cukup mendetail melakukan penelitian tentang masyarakat Madura. Salah satunya adalah musik hadrah, dalam penelitiannya itu, Helena Bouvier menulis seperti ini
“Hadrah adalah seni khas laki-laki. Dasarnya adalah qasidah yang merupakan dasar pelajaran penabuh dan penari sebelum mereka mulai memukul tambur datar (rebana atau rebbana) atau mulai gerak dasar dari koreografi di dalam posisi duduk (Ruddad) atau berdiri (Zaf). Qasidah dalam musik hadrah pada umumnya berasal dari kitab haddrah (atau Dewan Hadrah) Kitab Barzanji atau Kitab Diba’”. Mengenai teori yang dipaparkan oleh Helena Bouvier itu memang betul-betul terjadi, dalam artian sesuai dengan realita masyarakat pelaku kesenian musik hadrah yang ada di Desa Kampao. Beberapa koreografi seperti gerak tangan dan lenggokan kepala, kerap menjadi unsur estetika yang terkandung dalam musik hadrah. Selain itu estetika musik yang cukup beragam dengan bacaan sholawat yang di lagukan menjadi ciri khas tersendiri untuk seni musik hadrah yang ada di desa Kampao ini.
Seni musik hadrah selalu menampilkan lima penabuh rebana dan juga disertai jidur. Dari alat-alat itulah akan terdengar bunyi dan lagu yang memesona bagi para pendengarnya. Dan dari lima penabuh rebana, ada satu hadi (vocal) dan ada pula backing vokal.
Istilah haddrah dan hadrah berasal dari bahasa Arab. Yaitu “hadir” atau “hadlir” yang mengacu kepada kehadiran di hadapan Allah. Haddrah kadang-kadang ditulis hadrah, tetapi ejaan yang pertama adalah ejaan Madura (Helena Bouvier : 214).
Killiaan mencatat “ Hadrah” pujian kepada Allah dengan iringan tambur kecil. Istilah ruddad mengaju sekaligus pada sahutan paduan suara kepada pemimpin pertunjukan yang juga penari-penyanyi, yaitu hadi, serta gerak tari yang menyertai paduan suara itu.
Kesenian ini konon diciptakan oleh seorang ulama di madinah atau di mekkah.  Namun, Pigeaud tidak mencatat penyebaran kesenian ini sampai ke Madura. Namun, Sunario, ahli hadrah dari Sumenep tahun 1929 telah mengenal Hadrah, Samman, dan Gambus sejak muda. Di Sumenep pula, ada guru dari sumenep Zainal Arifin dan A. Bin Ta’lab. Tokoh ini sering menciptakan lagu baru dan merekamnya di dalam kaset. Kreasinya ini kemudian ditiru oleh beberapa kelompok di sekitar Sumenep dan di luar Sumenep.
Bahkan setiap Molod Nabbi (Maulid Nabi), setiap tahun selalu diadakan kompetisi hadrah antar semua kelompok hadrah di Sumenep yang kemudian dikompetisikan di Masjid Besar Sumenep. Di luar Sumenep sendiri, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, jenis musik ini masih eksis terutama di Ponpes Syaichona Kholil Demangan atau di Lebak Bangkalan dan  di Dusun Keramat Ujung Piring Bangkalan.
Sumber: Tim Redaksi KKN-04 Desa Kampao, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan. (Melalui Pengamatan Secara Langung dan Interview dengan Pelaku Seni Musik Hadrah yang ada di Desa Kampao).
2.      Upacara Pelet Kandhung pada Masyarakat desa Kampao, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan.
            Sebagian besar masyarakat di Indonesia mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya (Koentjaraningrat, 1985; Keesing, 1992). Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga dapat dilalui dengan selamat. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara masa kehamilan yang disebut sebagai pelet kandhung atau pelet betteng (pijat perut) pada  masyarakat di Desa Kampao, Kecataman Blega, Kabupaten Bangkalan.
1.       Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Penyelenggaraan upacara pelet kandhung di desa Kampao ini, diadakan ketika usia kandungan seseorang telah mencapai tujuh bulan. Sebelum upacara diadakan, pada bulan pertama saat seorang perempuan mulai mengandung, diadakan upacara nandai. Pada saat upacara nandai selesai, akan ditaruh sebiji bigilan atau beton (biji nangka) di atas sebuah leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan tersebut. Dan, pada saat di atas leper itu telah ada tujuh biji bigilan yang menandakan bahwa usia kandungan telah mencapai tujuh bulan, maka diadakanlah upacara pelet kandhung atau pelet betteng. Sebagai catatan, upacara masa kehamilan yang disebut sebagai pelet kandhung ini diadakan secara meriah hanya pada saat seorang perempuan mengalami masa kehamilan untuk yang pertama kalinya. Pada masa kehamilan yang kedua, ketiga, dan seterusnya, upacara pelet kandhung tetap diadakan, namun tidak semeriah upacara pada saat mengalami kehamilan untuk pertama kalinya.
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara pelet kandhung yang di lakukan di desa Kampao ini juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui oleh seseorang dalam upacara ini adalah sebagai berikut:
(1) tahap pelet kandhung (pijat perut).
(2) tahap penyepakan ayam.
(3) tahap penginjakan kelapa muda dan telur.
(4) tahap pemandian.
(5) tahap orasol (kenduri).
Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan pada malam bulan purnama setelah sholat Isya, dengan pertimbangan bahwa malam bulan purnama adalah malam yang dirahmati Tuhan dan para peserta upacara telah terlepas dari rutinitas keseharian mereka. Tempat pelaksanaan upacara pelet kandhung bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pelet kandhung, penyepakan ayam, penginjakan telur ayam dan kelapa muda, dilakukan di dalam kamar atau bilik orang yang sedang mengandung. Untuk prosesi pemandian dilakukan di kamar mandi atau di halaman belakang rumah.
Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun baji (dukun beranak) dan dibantu oleh agung bine atau emba nyae (nenek dari perempuan hamil yang sedang diupacarai). Sedangkan, acara kenduri dilaksanakan di ruang tamu dan dipimpin oleh seorang kyae atau ulama setempat. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam upacara pelet betteng adalah ayah, ibu serta sanak kerabat dari perempuan yang hamil itu maupun orang tua dan sanak kerabat dari pi hak suaminya. Di samping sanak kerabat tersebut, hadir pula para tetangga yang sebagian besar adalah perempuan dewasa atau yang sudah kawin.
2.       Peralatan Upacara
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara pelet betteng atau pelet kandhung adalah: (1) kain putih sepanjang 1½ meter yang nantinya akan digunakan sebagai penutup badan perempuan yang akan diupacarai pada saat dimandikan; (2) air satu penay (belanga); (3) berbagai jenis bunga (biasanya 40 jenis bunga) untuk campuran air mandi. Air dalam penay dan berbagai jenis bunga (komkoman) mengandung makna kesucian dan keharuman; (4) gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan gagangnya dari ranting pohon beringin yang masih ada daunnya; (5) sebutir telur ayam yang masih mentah dan sebutir lagi yang sudah direbus; (6) satu leper ketan kuning yang sudah masak; (7) seekor ayam muda; (8) minyak kelapa; (9) kemenyan Arab; (10) setanggi; (11) uang logam; (12) sepasang cengker kelapa gading yang digambari Arjuna dan Sembodro serta dibubuhi tulisan Arab atau Jawa; dan (13) berbagai macam hidangan untuk arasol (kenduri) yang berupa: kuwe procut, ketan kuning yang dibalut daun berbentuk kerucut, jubada (juadah), lemeng (ketan yang dibakar dalam bambu), tettel (penganan yang terbuat dari ketan), minuman cendol, la’ang dan bunga siwalan (semacam legen).
3.       Jalannya Upacara
Ketika masa kehamilannya telah mencapai tujuh bulan, maka keluarganya akan menghubungi dukun baji untuk memberitahukan dan sekaligus memintanya menjadi pemimpin upacara pelet kandhung. Selain itu, pihak keluarga juga menyampaikan undangan kepada para kerabat dan tetangga terdekat untuk ikut menghadiri upacara.
Pada hari yang telah ditentukan dan semua peserta upacara telah berkumpul di rumah perempuan yang diupacarakan, maka upacara pun dilaksanakan. Upacara diawali dengan pembacaan ayat-ayat Al Quran (Surat Yusuf dan Maryam) oleh para undangan laki-laki yang dipimpin oleh seorang Kyae. Sementara mereka membaca ayat-ayat Al Quran, di dalam bilik perempuan yang mengandung itu mulai dilaksanakan prosesi pelet kandhung. Dukun baji mulai memelet atau memijat bagian perut perempuan tersebut dengan menggunakan minyak kelapa. Maksud dari tindakan ini adalah untuk mengatur posisi bayi di dalam kandungan.
Saat si perempuan hamil sedang dipelet (di pijat), para kerabatnya yang perempuan, mulai dari emba nyae (nenek), matowa bine (mertua perempuan), ebu majadi (adik perempuan ayah dan ibunya), dan eper bine (saudara ipar perempuan), secara bergantian mendatangi dan mengusap perutnya. Sambil mengusap perut, mereka memanjatkan doa dan harapan agar si perempuan beserta bayi yang dikandungnya selalu dalam lindungan Tuhan.
Usai dipelet (di pijet), perempuan hamil tersebut dibimbing oleh sang dukun baji ke tempat seekor ayam yang sebelumnya telah diikat pada salah satu kaki tempat tidur. Saat berada di dekat ayam, si perempuan hamil diharuskan untuk menyepak hingga sang ayam kesakitan dan berbunyi “keok”. Selanjutnya ayam yang masih terikat itu dilepaskan dan dikurung di belakang rumah. Apabila upacara telah selesai, ayam itu akan diserahkan kepada dukun baji sebagai ucapan terima kasih.
Selesai menyepak ayam, perempuan hamil itu kemudian diselimuti dengan kain putih dan diminta untuk menginjak sebutir kelapa muda dengan kaki kanan. Selanjutnya, ia diminta lagi untuk menginjak telur mentah dengan kaki kiri. Apabila telur berhasil dipecahkan, maka bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin laki-laki. Namun, apabila telur tidak berhasil dipecahkan, sang dukun akan mengambil dan menggelindingkannya dari perut perempuan hamil itu. Saat telur pecah, orang-orang yang hadir di ruangan itu seretak berucap “jebing, jebing”, yang mengandung makna bahwa kelak bayi yang dikandung diramalkan akan berjenis kelamin perempuan.
Selanjutnya, perempuan hamil tersebut dibimbing oleh dukun baji ke belakang rumah untuk menjalani prosesi pemandian. Ia kemudian didudukkan di sebuah bangku kayu yang rendah dan di dekatnya disediakan air komkoman pada sebuah periuk tanah. Setelah itu, sang dukun baji sambil memegang gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan ranting beringin, memasukkan uang logam ke dalam komkoman dan mulai memandikan perempuan hamil itu. Sesudah dukun selesai mengguyur, maka satu-persatu perempuan kaum kerabatnya mulai bergiliran mengguyur hingga air di dalam komkoman habis.
Selesai dimandikan, ia dibawa masuk lagi ke kamarnya untuk dirias dan dipakaikan busana yang paling bagus. Kemudian, ia dibawa menuju ke ruang tamu untuk diperlihatkan kepada para hadirin. Saat itu, para hadirin akan mengucapkan kata-kata “radin, radin”, yang artinya “cantik”. Ucapan itu dimaksudkan sebagai persetujuan hadirin bahwa pakaian yang dikenakannya sudah serasi dan sesuai.
Setelah itu, acara diteruskan dengan penyerahan dua buah cengker yang telah digambari Arjuna dan Sembodro kepada Kyae untuk didoakan. Setelah selesai pembacaan doa yang diamini oleh segenap yang hadir, Kyae lalu menyerakan kedua cengker tersebut kepada matowa bine untuk diletakkan di tempat tidur menantu perempuannya yang sedang hamil itu. Sebagai catatan, cengker itu tetap ditaruh di tempat tidur hingga si perempuan melahirkan bayinya. Dan, dengan adanya cengker di sisi tempat tidurnya, maka sejak saat itu suaminya tidak diperkenankan lagi menggauli hingga bayi yang dikandungnya lahir dan telah berumur 40 hari.
Selanjutnya, perempuan hamil itu dibawa masuk lagi ke dalam kamarnya dan diberi minum jamu dek cacing towa yang ditempatkan dalam sebuah cengkelongan (tempurung gading). Setelah jamu dek cacing towa diminum, maka cengkelongan itu segera dilemparkan ke tanean (halaman). Apabila cengkelongan jatuhnya tertelentang, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan, apabila tertelungkup, maka bayi yang akan lahir diperkirakan berjenis kelamin perempuan.
Setelah itu, si perempuan hamil disuapi dengan sedikit nasi ponar (nasi kuning), ketan yang diberi warna kuning dan telur rebus. Makanan itu tidak dimakan sampai habis. Dengan berakhirnya tahap pemberian nasi ponar ini, berakhirlah seluruh rentetan upacara pelet kandhung.
Sebagai catatan, sejak saat diadakan upacara nandai, pelet kandhung, hingga melahirkan, perempuan yang sedang hamil itu harus mematuhi berbagai macam pantangan, baik pantangan memakan makanan tertentu maupun pantangan melakukan perbuatan tertentu. Pantangan yang berupa makanan diantaranya adalah: pantang memakan juko lake (sejenis binatang yang bersengat), kepiting, bilang senyong, me eme parsong (sejenis cumi-cumi), daging kambing, ce cek (kerupuk rambak), petis, nenas muda, durian, tepu, mangga kweni lembayung, dan plotan lembur. Apabila pantangan ini dilanggar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti: keguguran, bayi yang dikandung terkena saban (sawan), proses melahirkan tidak lancar, dan banyak darah yang keluar pada saat melahirkan.
Sedangkan pantangan yang berupa tindakan atau perbuatan diantaranya adalah: tidak boleh kerja berat berat, bekerja secara tergesa-gesa dan mendadak, berjalan cepat, naik-turun tangga, menyiksa binatang, tidur melingkar, duduk di ambang pintu, etampe (makan sambil menyangga piring), san rasanan (bergunjing, mencela, menyumpah, dan bertengkar dengan orang lain), dan bersenggama pada hari-hari tertentu (Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu). Apabila pantangan-pantangan ini dilanggar, sebagian masyarakat Madura percaya bahwa kandungan yang nantinya akan dilahirkan akan mengalami cacat.
4.       Nilai Budaya
Ada beberapa nilai yang terkandung dalam upacara pelet kandhung. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, keselamatan, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian sanak kerabat untuk berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan.
Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.
Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, membantu pemimpin upacara, dan lain sebagainya.
Nilai keselamatan tercermin dalam adanya kepercayaan bahwa peralihan kehidupan seorang individu dari satu masa ke masa yang lain penuh dengan ancaman (bahaya) dan tantangan. Untuk mengatasi krisis dalam daur kehidupan seorang manusia itu, maka perlu diadakan suatu upacara. Pelet kandhung merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk mencari keselamatan pada tahap peralihan dari masa di dalam kandungan menuju ke kehidupan di dunia.
Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh kyae atau ulama setempat, pada acara orasol (kenduri) yang merupakan salah satu bagian dari serentetan tahapan dalam upacara pelet kandhung. Tujuannya adalah agar sang bayi mendapatkan perlindungan dari Tuhan.
Sumber: Tim Redaksi KKN-04 Universitas Trunojoyo Madura (Melalui Interview Langsung dengan Sesepuh Desa Kampao, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan).


3. RISMA
Risma merupakan salah satu organisasi yang ada di Kampao. Kepanjangan dari RISMA sendiri adalah Remaja Islam Masjid Al-Abror. Organisasi ini berdiri sudah sejak lama. Kegiatannya seperti jasa pengiriman barang Bali-Madura, dan pengajian jika ada orang yang meninggal. Jasa pengirimannya diadakan dua kali dalma satu bulan, yaitu tanggal 8 dan tangga 21. Harga pengiriman sesuai denganberat dari barang yang dikirim.
Karena kurangnya kesadaran keselamatan dan kurangnya fasilitas, sehingga pengantaran barang ini ditengah jalan sering ditilang oleh polisi karena memang pengantarannya hanya menggunakan mobil pick up dan barang-barang yang dibawa hampir melebihi kapasitas. Pengiriman ini murni melalui mobil pick up tanpa perantara apapun.
Pimpinan dari RISMA sendiri adalah bapak Abu Daud, beliau menjabat menjadi ketua RISMA sejak tahun 2017. Untuk pergantian pimpinan biasanya diadakan empat tahun sekali. Hasil yang diperoleh dari kegiatan RISMA biasanya tidak 100 persen untuk organisasi, melainkan dibagi rata dengan yayasan dan masjid. Pembagiannya sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing.

Sumber: Tim Redaksi KKN-04 Universitas Trunojoyo Madura (Melalui Interview Langsung dengan Sesepuh Desa Kampao, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan).

Komentar